Dari Huzdaifah bin Al Yaman rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata:
“Orang-orang bertanya kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena takut jangan-jangan menimpaku, Maka aku bertanya, “Ya Rosululloh kami dahulu berada di zaman jahiliyah dan keburukan, lalu Alloh memberikan kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?” Beliau menyawab, “Ya.” Aku bertanya, “Dan apakah sesudah keburukan itu ada kebaikan?” Beliau menjawab, “Ya, dan ada padanya kabut!” Aku bertanya lagi, “Apa kabut itu?” Beliau menjawab, “Satu kaum yang mengikuti teladan selain sunnahku dan mengambil petunjuk selain petunjukku, kamu menganggap baik mereka dan kamu pun mengingkarinya.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan lagi?” Beliau menjawab, “Ya, para da’i yang mengajak ke pintu-pintu neraka (jahannam)! Barangsiapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka menjerumuskan ke dalam neraka.” Aku bertanya lagi, “Ya Rosululloh beritahulah kami sifat-sifat mereka?” Beliau menjawab, “Mereka dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya lagi, “Ya Rosululloh, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya?” Beliau menjawab, “Berpegang teguhlah pada jama’ah kaum Muslimin dan Imamnya.” Aku bertanya lagi, “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imam?” Beliau menjawab, “Hindarilah semua kelompok itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga kematian menjemputmu dalam keadaan seperti itu.”
(HR. Bukhari dalam Fathul Baari (6/615-616) dan Muslim (no. 1847)).
Berbicara tentang sosok Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni, seorang penulis kondang yang kini digandrungi oleh sebagian besar kaum Muslimin sepertinya tidak akan lengkap bila kita tidak menguraikan tentang apa saja karya tulis yang telah beliau buat. Memang kita semua mengenal karya tulis beliau yang berjudul “La Tahzan” tapi apakah kita mengenal tulisan-tulisannya yang lain? Aidh Al Qarni memiliki banyak karya tulis dan kaset-kaset ceramah. Namun yang akan kita bahas disini Insya Alloh akan fokus kepada karya tulis yang dibuat olehnya dan bagaimana sikap kita terhadap karya-karyanya, terutama yang sudah banyak beredar di masyarakat dan terlanjur disukai oleh banyak kaum Muslimin.
Karya Tulis Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni.
Dalam biografinya disebutkan bahwa ia memiliki 29 buah karya tulis yang diterbitkan oleh Penerbit Dar Ibnu Hazm di Libanon, yakni:
-
Al-Islam wa Qadhaya al-Ashr.
-
Taj al-Mada’ih.
-
Tsalatsuna Sababan Li as-Sa’adah.
-
Durus al-Masajid fi Ramadhan.
-
Fa’lam Annahu Laa Ilaha Illalloh.
-
Mujtama’ al-Mutsul.
-
Wirdu al-Muslim wa al-Muslimah.
-
Fiqh ad-Dalil.
-
Nuniyyah al-Qarni.
-
Al Mu’juzah al-Khalidah.
-
Iqra’ Bismi Rabbik.
-
Tuhaf Nabawiyah.
-
Hatta Takuna As’adan Nas.
-
Siyath al-Qulub.
-
Fityah Amanu Birabbihim.
-
Hakadza Qala Lana al-Mu’allim.
-
Walakin Kunu Rabbaniyin.
-
Min Muwahhid Ila Mulhid.
-
Imbrathur asy-Syu’ara.
-
Wahyu adz-Dzakirah.
-
Ilalladzina Asrafu ala Anfusihim.
-
Turjuman as-Sunnah.
-
Hada’iq Dzat Bahjah.
-
Al-Azhamah.
-
La Tahzan.
-
Wa Ja’at Sakaratul Maut Bil Haq.
-
Maqamat al-Qarni.
-
Ihfazhillah Yahfazhka.
-
A’dzab asy-Syi’r.
(Sumber: 391 Hadits Pilihan Mendasari Kehidupan Sehari-hari. Penerbit: Pustaka Darul Haq – Jakarta).
Catatan atas Karya Tulis Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni.
Di antara ke-29 karya tulis ini, La Tahzan memang yang sangat populer di masyarakat bahkan ia telah dikatagorikan sebagai “best seller”. Meskipun demikian, sebagaimana pembahasan yang telah lalu, buku “La Tahzan” mendapatkan kritikan tajam dari Asy Syaikh Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizahullohu dimana beliau mengkritik judul buku tersebut. Beliau hafizahullohu menyebutkan:
“maksudnya bersedih atas apa ? apakah maksudnya bahwa manusia tidak boleh bersedih atas sesuatupun? Padahal kesedihan itu sendiri, terkadang memiliki alasan-alasan yang dibenarkan oleh syari’at, sehingga yang bersedih perlu bersabar dan mengharapkan pahala atas kesabarannya tersebut.
Cara berdialog dengan manusia seperti ini, "Laa Tahzan" (jangan bersedih), kemudian obatnya adalah perkataan kaum orintalis?! ini adalah bukti kedangkalan pemahamannya, seakan-akan al-Qur’an tidak cukup bagi kita dan di dalamnya ada hal yang menjadikan kita bersedih, sehingga kita perlu lari dari al-Qur’an dan as-Sunnah dan berpaling kepada perkataan kaum orientalis!! Ini sangat berbahaya.”
(Maktabah Abu Salma Al Atsary, http://abusalma.co.cc)
Kemudian dalam karya tulisnya yang lain dengan judul “Lahnul Khulud” pada halaman 46-47 (karya tulis ini selain dari yang disebutkan di atas) dimana beliau berkata dalam qasidahnya “Da’il Hawasyi wa Khuruj” yang menunjukkan kepada para ulama yang hidupnya dihabiskan dalam menggali ilmu, menulis dan menyebarkannya, agar manusia dapat memahami hukum-hukum agama mereka:
“… Sholat dan puasalah sesuai dengan yang kamu mau
Agama ini tidak dikenali hanya dengan orang shalat dan puasa saja
Kamu ibarat salah seorang pendeta dari kalangan ruhban (Nashara)
Yang kamu dari pengikut Ahmad cukuplah sebagai ketercelaan
Kamu tinggalkan medan untuk pergi rnendatangi antara
Kehinaan kedustaan yang akan membengkokkan rumput yang tinggi
Setiap hari kamu mensyarahkan matan di atas
Madzhab taqlid, sungguh telahmenambah debu hitam
Atau seorang da ‘i yang fajir terjatuh
Dalam umatku sebagai tertuduh yang menolak celaan itu
Dan budak-budak hitam telah disibukkan dengannya
Ketika keringan dari si pencari telah memutuskan.”
Asy Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizahullohu berkata:
“Hai orang yang memiliki teror pemikiran yang telah merenggut kehormatan ilmu dan Ulama ar-Rabbaniyin melalui ucapannya, hanya Alloh tempat memohon pertolongan.”
(Seruan Terbuka Kepada Para Pemilik Toko Buku, Penerbitan Umum dan Khusus. http://almanhaj.or.id).
Jelas sya’ir (qasidah) yang diutarakan oleh Aidh Al Qarni bisa dikatakan sebagai bentuk istighosah, namun istighosahnya itu tidak ditujukan kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala melainkan orang ini melakukan istighosah sebagaimana biasa dilakukan oleh orang-orang Sufi.
Sikap terhadap Karya Tulis Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni.
Setelah kita menemukan kekeliruan dan kecacatan dalam karya tulisnya, sebagai langkah lanjutan adalah bagaimana cara kita menyikapi karya-karyanya tersebut terutama yang saat ini begitu digandrungi dan tersebar luas di tengah-tengah masyarakat.
Asy Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizahullohu bahkan telah memperingatkan penerbit-penerbit buku, terutama yang bermanhaj salaf, untuk tidak menyebarkan buku-buku DR. ‘Aidh al-Qorni, meskipun terkadang di dalam bukunya ada hal-hal yang benar, karena orang awam pasti sulit memilah-milah isinya, terlebih orang ini memiliki gaya bahasa yang halus dan sangat mungkin menyusupkan pemikirannya sehingga tidak disadari pembaca, minimal penyebaran buku-bukunya akan menjadikannya terkenal di Indonesia, berawal dari buku-bukunya yang tidak dipermasalahkan, setelah para pembaca terpikat, maka mereka akan menelan mentah-mentah buku-bukunya yang lain tanpa mempertimbangkan dan memilah-milah kesalahan yang ada di dalamnya.
Dari Imran bin Husain rodhiyallohu ‘anhu ia berkata, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa mendengar tentang Dajjal hendaklah menjauh darinya. Demi Alloh, sungguh seseorang akan mendatangi Dajjal dalam keadaan yakin bahwa dirinya Mukmin, namun akhirnya dia mengikutinya lantaran syubhat-syubhat yang dilontarkannya.”
(HR. Ahmad (4/431 dan 441) dan Abu Daud, no. 4319. Dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam al-Misykah, no. 5488).
Keterpikatan itu dapat menjadikan kita larut terbawa oleh arus syubhat yang dibawakan olehnya. Ini merupakan bentuk fitnah yang patut dihindari oleh kaum Muslimin sebagaimana perintah untuk menjauhi Dajjal di akhir zaman nanti. Ya, Dajjal itulah induk dari segala bentuk fitnah.
Dari Imran bin Husain rodhiyallohu ‘anhu ia berkata, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Tiada perkara semenjak penciptaan Adam sampai datangnya Hari Kiamat yang lebih besar dari perkara Dajjal.”
(HR. Muslim, no. 2946).
Ulama Salaf juga telah mencontohkan kepada kita agar menjauhi setiap perkara syubhat dan bisa menjadikan fitnah terhadap diri kita. Diantara teladan para Ulama Salaf tersebut adalah:
1. Abu Hisyam ar-Rifa’i berkata:
“Abu Bakar nin Iyasy pernah berkata kepada al-Hasan bin al-Hasan di Madinah, “Fitnah (godaan) apa yang masih tertinggal dalam dirimu?” Ia balik bertanya, “Fitnah apa rupanya yang kamu lihat menimpa diriku?” Abu bakar menjawab, “Aku melihat mereka menciumi tanganmu, tetapi kamu tidak mencegahnya.”
(Siyar A’lam An Nubala, 8/500).
2. Dari Abu Ja’far al-Albani diriwayatkan bahwa ia menceritakan:
“Ketika Ahmad digiring ke khalifah Makmun, aku diberikan kabar. Tiba-tiba beliau sudah duduk di warung. Aku pun memberikan salam kepadanya. Beliau berkata, “Wahai Abu Ja’far, apakah kamu menanti-nanti?” Aku berkata, “Begini, anda sekarang ini diibaratkan kepala. sementara orang-orang hanya mengikuti anda saja. Demi Alloh, seandainya anda menjawab bahwa Al-Qur’an itu makhluk, mereka pun akan menjawab demikian. Apabila anda tidak menyatakan demikian, maka akan banyak juga orang yang tak sudi menyatakan demikian. Meski demikian, kalaupun orang itu tidak membunuh anda, toh anda akan mati juga, pasti akan mati. Maka bertakwalah kepada Alloh, dan jangan ditanggapi permintaannya.” Maka Imam Ahmad pun menangis dan berkata, “Masya Alloh.” Selanjutnya beliau berkata, “Wahai Abu Ja’far, ulangi lagi perkataan itu.” Akupun mengulanginya, sementara beliau tetap mengatakan, Masya Alloh.”
(Siyar A’lam An Nubala, 11/239).
Maka dari itu, kita harus menjauhi dan menutup rapat-rapat setiap pintu fitnah dan syubhat yang akan menimpa diri kita. Sekuat apapun iman kita terhadap daya pikat karya tulis-karya tulis Aidh Al Qarni, ketahuilah bahwa itu bukan merupakan jaminan mutlak akan terlindunginya diri kita dari kesemuanya. Allohu A’lam.
Referensi:
-
Abdul Aziz bin Nashir al-Jalil dan Baharudin bin Fatih Uqail. 2005. Belajar Etika dari Generasi Salaf (terjemahan “Aina Nahnu Min Akhlaq As Salaf”. Penerjemah: Abu Humaira, Muraj’ah: Ahmad Amin Sjihab). Pustaka Darul Haq – Jakarta.
-
Aidh bin Abdullah Al Qarni. 2007. 391 Hadits Pilihan Mendasari Kehidupan Sehari-hari (terjemahan “Turjuman as-Sunnah”. Penerjemah: Muhammad Iqbal Ghazali, Muraj’ah: Tim Pustaka Darul Haq). Pustaka Darul Haq – Jakarta.
-
Anonimus. Membaca Buku ‘Aidh Al Qorni !!! (http://dzakhirah.co.cc/2008/11/membaca-buku-aidh-al-qorni/).
-
Asy Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaly. 2002. Mengapa Memilih Manhaj Salaf? Studi Kritis Problematika Umat (terjemahan “Limadza Ikhtartu al-Manhaj as-Salafy”. Penerjemah: Al Ustadz Kholid Syamhudi). Pustaka Imam Bukhari – Solo.
-
Asy Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili. 2007. Bersedihlah!!! Koreksi Dr. Ibrahim Ar Ruhaili terhadap buku La Tahzan dan pengarangnya serta pemikiran da’i kondang Salman Al-Audah dan Safar Hawali. Maktabah Abu Salma Al Atsary – Surabaya (http://abusalma.co.cc).
-
Asy Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali. 2004. Seruan Terbuka Kepada Para Pemilik Toko Buku, Penerbitan Umum dan Khusus. (http://www.almanhaj.or.id/content/876/slash/0).
-
Shalahuddin Mahmud. 2007. Misteri Akhir Zaman (terjemahan “Al-Masih Dajjal wa Ya’juj wa Ma’juj”. Penerjemah: Jamaluddin, Muraj’ah: Tim Pustaka DH). Pustaka Darul Haq – Jakarta.



.jpg)



Menyikapi buku-buku karya DR. Aidh al Qarni..Kalau thd personnya langsung, bagaimana sikap kita? Bagaimana pula sikap terhadap organisasi/yayasan yang menyatakan diri berada diatas manhaj Salaf tapi menerjemahkan dan menerbitkan buku2nya? Bahkan pimpinan organisasi tsb turut serta menghadiri ceramahnya tatkala dia ke datang ke Indonesia?
Sepertinya dulu antum punya semacam “suatu sikap adil” terhadap DR Aidh al Qarni..