10
Jun
09

“Dia (Aidh Al Qarni) Ruju’ Tapi…..”

Dari Abu Said Sa’ad ibn Malik ibn Sinan Al Khudri rodhiyallohu ‘anhu, bahwasannya Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Pada umat sebelum kamu ada seorang laki-laki yang membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Kemudian dia bertanya kepada seorang pendeta. Dia mendatanginya dan bertanya, “Sesungguhnya dia telah membunuh sembilan puluh sembilan nyawa, apakah ada taubat untuknya?” Pendeta menjawab, “Tidak.” Maka ia pun membunuhnya, menggenapkan angka seratus dengannya. Kemudian dia bertanya tentang orang yang paling mengerti di muka bumi ini. Maka ia pun ditunjukkan kepada seorang ‘alim. Dia berkata (kepadanya): “Sesungguhnya dia telah membunuh seratus nyawa, apakah ada taubat untuknya?” ‘Alim itu menjawab, “Ya dan memangnya siapa yang menghalangi antara dia dan taubat? Pergilah ke suatu negeri, sesungguhnya di sana terdapat orang-orang yang menyembah Alloh Ta’ala, menyembahlah kepada Alloh bersama mereka. Kamu jangan pulang ke negerimu karena ia adalah negeri yang jelek.” Maka orang tadi berangkat dan tatkala ia sampai pada separuh perjalanan, ia dijemput oleh maut. Maka malaikat rahmat dan malaikat adzab berselisih tentangnya. Malaikat rahmat berkata, “Dia datang dalam keadaan bertaubat, menghadap dengan sepenuh hatinya kepada Alloh Ta’ala.” Sementara malaikat adzab mengungkapkan alasan, “Sesungguhnya dia belum pernah melakukan kebaikan sama sekali.” Maka ada malaikat lain yang mendatangi mereka dalam wujud manusia. Akhirnya mereka menjadikannya sebagai penengah (hakim). Maka dia berkata, “Ukurlah jarak antara dua negeri ini, kemana ia lebih dekat jaraknya maka ia termasuk miliknya.” Mereka pun mengukur, ternyata mereka menemukan bahwa dia lebih dekat dengan kampung yang sedang dituju. Maka malaikat rahmatlah yang menanganinya.”

(Muttafaq ‘Alaihi).

 

Belakangan ini marak pemberitaan bahwa Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni telah ruju kembali kepada kebenaran. Si penulis “La Tahzan” itu disebut telah mengoreksi kesalahan-kesalahannya dan kembali kepada tuntunan Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman as-Salaf ash Sholih. Akan tetapi, kabar ruju’ ini tidak serta-merta membolehkan kita untuk menjadikan orang ini sebagai ulama panutan layaknya para ulama Ahli Ilmu. Asy Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan hafizahullohu menyebutkan bahwa ruju’-nya Aidh Al Qarni memang benar namun ia tidaklah ruju’ secara kaffah (sempurna). Berikut adalah pernyataan beliau tentang kabar ruju’-nya Aidh Al Qarni:

Berkata Asy Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan hafizahullohu dalam kitab “Al Wajibah Al Mufidah’an As’liatil Manahij Al Jadidah” :

Setelah selesai kitab ini sampai kepadaku beberapa lembar kertas yang berisi ralat dari Aidh Al Qarni terhadap beberapa kesalahannya. Saya mendapati di antaranya ralat dari ketergelincirannya ini. Sebagai perwujudan sikap adil, maka kami pun menyebutkan ruju-nya, dengan tetap berhati-hati terhadap ralat dan metode yang digunakannya. Ia menamakan makalah tersebut dengan judul “Mughalithat”. Ia mengatakan: (Yang ke-14):

“Saya telah mengatakan dalam sebuah kaset! Dengan judul “larilah kamu dari hizbiyyah sebagaimana larimu dari singa”: “Barangsiapa yang mewajibkan kepada manusia untuk menjadi seorang ikhwani, tablighi, salafi maka ia harus diminta bertaubat. Jika ia mau bertaubat maka itu yang diharapkan dan jika tidak maka dibunuh.”

“Ungkapan ini murni kesalahan dari saya dan saya beristighfar kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala darinya. Maksud saya sebenarnya adalah orang yang melakukan hal tersebut sungguh telah membuat syari’at baru. Akan tetapi bagaimanapun juga itu merupakan suatu kesalahan dan saya minta uzur. Saya pun meyakini bahwa madzhab Salaf adalah madzhab yang benar dan wajib bagi seluruh manusia untuk mengikuti serta menelusuri jalannya.”

Sekian nukilan dari lembaran tersebut.

Diantara perkara yang sangat diketahui menurut Ahlus Sunnah adalah ruju’ itu dari seluruh kesalahan bukan sebagiannya saja, bahkan hendaknya dengan menulis pengakuan, pembenaran dan ruju’-nya itu lewat mimbar-mimbar siaran dan pengumuman sehingga bisa dilihat oleh semua orang. Bukannya dalam beberaoa lembar kertas yang dikirimkan dan diketahui oleh segelintir orang saja. Maka waspadalah wahai saudara pembaca dari kesalaahn-kesalahan.

Ibnul Qayyim berkata:

“Di antara syarat taubat seorang penyeru bid’ah adalah dengan menjelaskan bahwa apa yang ia dakwahkan dahulu adalah bid’ah dan kesalahan serta menjelaskan bahwa petunjuk itu ada pada lawannya.”

(Iddatush Shabirin, hal. 93).

Kemdian kita punya sebuah pertanyaan:

“Apakah ini merupakan kesalahan dan ketergelinciran satu-satunya dari seorang da’i yang telah mencapai gelar Doktoralnya baru-baru ini?!”

Bacalah ungkapan berikut:

Ia berkata dalam kitabnya Al Misk wal ‘Ambar (1/189):

“Apa yang telah kita persembahkan pada tahun hijriyah yang telah lalu? Kamu bisa terheran-heran terhadap hijrah nabi!!! Mana surat kabar pagi? Mana siaran televisi? Mana surat kabar-surat kabar itu, tidak pernah sama sekali memperingati Nabi Muhammad? Negeri yang tidaklah bersinar padanya matahari melainkan mereka selalu menyebut beliau, tetapi tidak pernah memperingati beliau sama sekali? Tidak pernah walaupun dengan satu kalimat! Tidak ada satu tiang kecilpun, tidak pula satu masjid kecilpun memperingati sang pembenah yang agung (Nabi Muhammad)?!!”

Sekian.

Bukankah ini mirip kalaulah memang tidak sama persis dengan perayaan bid’ah maulid nabi yang dihidup-hidupkan oleh berbagai siaran radio dan televisi di berbagai negeri kecuali negeri Sunni dan Salafi ini, negeri Haramain, kerajaan Saudi Arabia –semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala melindunginya dari para pengikut hawa nafsu dan bid’ah-. Perkaranya semakin bertambah pasti tentang sikap melampaui batas dengan perayaan hari hijrahnya Nabi dari da’i ini di mana ia mengatakan (1/190):

“Apa yang dijadikan alasan oleh orang-orang itu kelak di hadapan Nabi?!!”

Yang ia maksudkan, orang-orang yang memperingati hari hijrahnya Nabi baik dengan tulisan dan ucapan di surat kabar maupun televisi. Sikapnya juga tambah melampaui batas terhadap Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam  sebelum ucapannya yang lalu dimana ia mengatakan:

“Adapun manusia pilihan yang paling utama, inti alam semesta dan seorang yang telah Alloh jadikan sebagai pembenah umat, tetapi tidak didapati ada sanjungan dari penulisan biografi tentang beliau sama sekali.”

Ini benar-benar merupakan ucapan orang Sufi.

Bagaimana bisa da’i ini menuduh umat tidak pernah membuat biografi bagi Nabi? Padahal itu adalah tujuan terhadap para pendahulu kita yang sholih. Sungguh banyak kitab-kitab yang menulis sejarah hidup dan perilaku beliau. Kecuali jika biografi yang dimaukan itu dengan menyebutkan hijrah beliau dalam acara maulid nabi.

Demikian pernyataan Syaikh hafizahullohu. Dari pernyataan ini bisa kita amati bahwa Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni tidaklah benar-benar ruju’ dari kesalahan. Memang benar ia telah ruju’ dari sebagian kesalahannya yang lalu akan tetapi ia tetap dalam pemikirannya yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah serta jalan para Salaf. Secara terang-terangan, beliau mengkritik ulama dan pimpinan negeri Saudi karena tidak merayakan hijrahnya Nabi maupun Maulid Nabi. Ini sungguh lucu karena kedua perayaan tersebut adalah bid’ah dan tidak ada sama sekali di negeri Saudi yang memang berpegang pada Manhaj Salaf dan Sunnah Nabi.

Jadi, sekali lagi, kita jangan dulu terpancing oleh kabar bahwa orang ini telah ruju’ karena ia belum ruju’’ dari kebid’ahan dan pemikiran Sufi-nya.

 

Referensi:

  • Asy Syaikh Sholih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan. 2008. Jawab Tuntas Masalah Manhaj (terjemahan kitab “Al Wajibah Al Mufidah’an As’liatil Manahij Al Jadidah”. Penerjemah: Abu Huzdaifah Yahya dan Abu Luqman. Muraj’ah: Al Ustadz Abu Muhammad Idral Harits Tholib). Penerbit: Pustaka Al Haura – Yogyakarta.

1 Response to ““Dia (Aidh Al Qarni) Ruju’ Tapi…..””


  1. July 17, 2009 at 9:35 am

    assalamu’alaykum…
    tulisannya keren2
    bagus2
    tp koq ga pernah update lg?


Leave a Reply




Kalender

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Arsip

Categories

Blog Stats

  • 13,055 hits

Pengunjung dari Berbagai Wilayah