09
Jun
09

Biografi Imam al-Asy’ari (4): Di Akhir Hayat Beliau Kembali Sepenuhnya Kepada Manhaj Salafus Sholih

Untuk beberapa waktu Imam al-Asy’ari masih mengikuti metode Ibnu Kullab dan terus membantah Mu’tazilah dengan metode al-Kullabiyah tersebut. Akan tetapi Alloh menganugerahinya kebenaran dan menyinari bashirah-nya, serta dengan kembalinya beliau secara total kepada Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, ialah Manhaj Ahlul Hadits.

Tahapan yang ketiga ini sangat penting untuk lebih dicermati karena tahap inilah yang membuktikan lurusnya aqidah beliau, sehingga sama dengan akidah yang dipegang teguh oleh para ulama madzhab yang empat, Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Asy-Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal, juga Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dan Muhammad bin Abdul Wahab.

Sebagian orang mengingkari tahapan ketiga ini, dan dalam pandangan mereka ini hanya rekayasa untuk mengklaim Imam al-Asy’ari. Untuk mereka, perhatikan lima sisi kenyataan ilmiah berikut ini:

Pertama: Ucapan Para Ulama.

Banyak ulama dan imam-imam yang menuliskan kesaksiannya tentang kembalinya Imam al-Asy’ari secara total kepada madzhab as-Salaf ash-Sholih dan mereka adalah ulama-ulama yang dikenal sebagai orang-orang yang teliti dan ulet dalam mengkaji dan meneliti permasalahan, tidak ceroboh, diakui kejujurannya dan sebagai bukti keikhlasan, mereka perhatikanlah bagaimana karya tulis mereka diterima semua kaum Muslimin di timur dan barat. Mereka antara lain:

1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dalam Majmu’ al-Fatawa (6/53).

2. Ibnu Qayyim, Murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dalam Ijma’ al-Juyusy al-Islamiyah (112).

3. Al Hafizh adz-Dzahabi, dalam Siyaru A’lam an-Nubala’ (15/86). Beliau berkata:

Saya menemukan empat karya tulis Abul Hasan dalam masalah ushul (aqidah) yang di dalamnya termuat kaidah-kaidah madzhab as-Salaf dalam masalah sifat-sifat Alloh, diantaranya Abul Hasan berkata, “(Nash-nash sifat itu) diberlakukan sebagaimana datangnya,” kemudian dia juga berkata, “dan itulah pandangan saya dan itulah agama yang saya anut dan tidak ditakwilkan.”

4. Al-Hafizh Ibnu Katsir, beliau menyebutkan bahwa Imam al-Asy’ari melewati tiga tahap:

  1. Sebagai seorang Mu’tazilah.
  2. Menetapkan sifat aqliyah yang tujuh: al-hayah (Mahahidup), al-ilmu (Maha Berilmu), al-qudrah (Mahakuasa), al-iradah (Maha Berkehendak), as-sama’ (Maha Mendengar), akan tetapi mentakwilkan sifat khabariyah seperti wajah, dua tangan dan sejenisnya.
  3. Menetapkan semua sifat Alloh, tanpa taqyif dan tanpa tasybih sebagaimana yang dipegang teguh oleh as-Salaf ash-Sholih dan metode inilah yang beliau terapkan di dalam kitabnya al-ibanah yang ditulis di akhir hidupnya. (Az-Zubaidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin, 2/5)

5. Asy Syaikh an-Nu’man al-Alusi, dalam Jala’ al-‘Ainain (213).

 

Kedua: Pertemuan beliau dengan al-Hafizh Zakariya as-Saji.

Berikutnya Imam al-Asy’ari beralih kepada imam-imam Ahlul Hadits yang dikenal memiliki aqidah lurus dan selamat, serta diantara yang paling berpengaruh bagi diri al-Asy’ari adalah Imam al-Hafizh Zakariya as-Saji, ahli hadits kota Bashrah di zamannya. Pertemuan ini mendapatkan perhatian besar dari para ulama karena inilah titik penting menentukan dalam perubahan manhaj Imam al-Asy’ari yang kemudian mengantarkannya kembali secara total kepada manhaj as-Salaf ash-Sholih, bahkan menisbatkan dirinya sebagai pengikut Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ahlus Sunnah sebagaimana yang beliau katakan di dalam al-Ibanah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

“Dari Zakariya as-Saji, al-Asy’ari mengambil kaidah-kaidah ilmu hadits di kota Bashrah dan setelah pindah ke Baghdad dia bertemu dengan murid-murid Imam Ahmad dan mengambil hal-hal lain dari mereka, serta itu adalah akhir hidupnya, sebagaimana yang dia sebutkan sendiri dan disebutkan oleh murid-muridnya di dalam kitab mereka.”

(Majmu’ Fatawa, 3/288).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga berkata,

“Zakariya bin Yahya as-Saji dan padanya Abul Hasan al-Asy’ari mengambil pokok-pokok aqidah Ahlus Sunnah dan Hadits. Dan kebanyakan yang dinukil dalam Maqalat al-Islamiyin adalah dari madzhab Ahlus Sunnah dan Ahli Hadits. “

(Majmu’ Fatawa, 5/386).

Diantara ulama yang memberikan perhatian besar terhadap pertemuan al-Asy’ari dengan as-Saji adalah Imam al-Hafizh adz-Dzahabi. Dalam biografi as-Saji, beliau berkata,

“Dari beliaulah Abul Hasan al-Asy’ari yang ahli Ushul mengambil pandangan Ahlul Hadits dan kaum Salaf.”

(Tadzkirah al-Huffazh, 2/709).

Dalam tempat lain juga pada biografi as-Saji, adz-Dzahabi berkata,

“Dan daripadanya Abul Hasan al-Asy’ari mengambil ucapan-ucapan Salaf dalam masalah sifat-sifat Alloh  dan Abul Hasan berpegang padanya dalam menyusun beberapa karya tulisnya.”

(Tadzkirah al-Huffazh (2/709) dan Siyar A’lam an-Nubala (14/198)).

Di tempat lain beliau juga berkata,

“As-Saji adalah Syaikh kota Bashrah dan hafizhnya, daripadanya Abul Hasan al-Asy’ari mengambil ilmu hadits dan pandangan-pandangan Ahlus Sunnah.”

(Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani dalam Mukhtashar al-‘Uluw, 223 dan 243).

 

Ketiga: Karya Tulis Beliau al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah.

Inilah kitab terakhir yang ditulis Imam al-Asy’ari dan di dalam kitab ini beliau menisbahkan dirinya kepada Imam Ahmad bin Hanbal, beliau menjelaskan bahwa beliau berpegang dengan aqidah as-Salaf ash-Sholih dan mengikuti imam-imam Ahlul Hadits. Segelintir orang mengingkari kitab ini sebagai milik Imam al-Asy’ari, bahkan nisbah kitab itu kepada beliau adalah dusta dan rekayasa. Berikut adalah ulama-ulama yang menetapkan bahwa kitab al-Ibanah adalah benar-benar karya Imam al-Asy’ari:

1. Al-Hafizh Ibnu Asakir, seorang ulama besar bermadzhab Syafi’I, bahkan di dalam Tabyin Kadzib al-Muftari yang merupakan buah kitab pembelaan untuk Imam al-Asy’ari, beliau banyak sekali mengutip kitab al-Ibanah. Pada halaman 28 al-Hafizh Ibnu Asakir berkata,

“Dan barangsiapa yang melihat kitabnya yang bernama al-Ibanah, dia akan tahu kedudukannya dalam ilmu dan Agama ini.”

2. Imam Ahli Qira’ah Abu Ali al-Hasan bin Ali bin Ibrahim al-Farisi (wafat 446H). Beliau berkata,

“Al-Asy’ari memiliki kitab dalam masalah as-Sunnah (al-aqidah) yang beliau beri nama al-Ibanah, yang beliau tulis di Baghdad ketika beliau masuk dan menetap di sana.”

3. Al-Hafizh Abu Utsman ash-Shabuni, seorang ulama Khurasan (wafat 449H). Diriwayatkan dari beliau bahwa setiap kali beliau keluar ke majelis tempat beliau menyampaikan pelajaran beliau selalu membawa kitab al-Ibanah karena kekaguman beliau terhadapnya.

4. Al Hafizh al-Faqih Abu Bakar al-Baihaqi juga bermazhab Syafi’I (wafat 458H). Al Baihaqi berkata di dalam al-I’tiqad wa al-Hidayah Ila Sabil ar_Rasyad (halaman 31),

“Imam Asy Syafi’I rohimahullohu menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ayat-ayat Al Qur’an yang kita lafazhkan dengan lidah kita dan kita dengar dengan telinga kita serta kita tulis pada lembaran-lembaran kita dinamakan Firman (kalam) Alloh dan bahwasannya Alloh berfirman dengannya kepada hamba-hamba-Nya dengan mengutus Rosul-Nya Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. Dan semakna dengan itu disebutkan juga oleh Ali bin Ismail (al-Asy’ari) di dalam kitabnya al-Ibanah.”

5. Imam Abul Fatah Nashar al-Maqdisi (wafat 490H), sebagaimana disebutkan Ibnu Dirbas.

6. Al Faqih Abul Ma’ali juga bermadzhab Syafi’I (wafat 550H), sebagaimana disebutkan juga oleh Ibnu Dirbas.

7. Ibnu Dirbas, juga bermadzhab Syafi’I (wafat 659H), dimana beliau berkata dalam sebuah risalah pembelaan beliau untuk Imam al-Asy’ari, adz-Dzabbu ‘An Abil Hasan al-Asy’ari,

“Ketahuilah saudara sekalian, bahwasannya kitab al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah yang ditulis Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari adalah kitab yang isinya beliau pegang teguh setelah beliau bertaubat dari Mu’tazilah karena karunia dan kasih sayang Alloh, serta semua pandangan yang dinisbatkan kepada beliau sekarang yang bertentangan dengan apa yang tercantum di dalam kitab (al-Ibanah) tersebut, maka beliau telah bertaubat dan berlepas diri (bara’) dari semua itu, bahkan beliau sendiri menulis di dalam kitab tersebut bahwa itulah keyakinan yang beliau anut sebagai agama bagi Alloh.”

8. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728H). Beliau berkata dalam al-Fatawa al-Humawiyah al-Kubra,

“Abul Hasan berkata di dalam kitabnya yang beliau beri nama al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah….”

Kemudian beliau sebutkan perkataan al-Asy’ari.

9. Al Hafizh adz-Dzahabi (wafat 748H). Adz Dzahabi berkata dalam al-‘Uluw lil Aliyil Ghaffar,

“Al-Asy’ari berkata dalam kitabnya al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah pada bab al-Istiwa’….”

dan adz-Dzahabi menyebutkan pandangan al-Asy’ari dalam masalah bersemayamnya Alloh di atas Arsy (al-Istiwa’).

Adz-Dzahabi kemudian berkata,

“Dan kitab al-Ibanah adalah diantara karya tulis al-Asy’ari yang paling terkenal yang diperkenalkan secara luas oleh al-Hafizh Ibnu Asakir bahkan dijadikan pegangan oleh beliau dan kemudian ditulis tangan oleh Imam an-Nawawi.”

Adz-Dzahabi kemudian mengutip dari al-Hafizh Abul Hasan Ahmad bin Tsabit ath-Thuruqi dimana beliau berkata,

“Saya pernah membaca kitab Abul Hasan al-Asy’ari yang diberi nama al-Ibanah, dalil-dalil yang menetapkan al-Istiwa’ (bersemayamnya Alloh di atas Arsy).”

10. Imam Ibnu Qayyim (wafat 751 H), di dalam Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah.

11. Al-Hafizh Ibnu Katsir (wafat 774H), dimana beliau berkata ketika menyebutkan tiga tahap perkembangan i’tiqad al-Asy’ari,

“Ketiga: Menetapkan semua sifat Alloh, tanpa takyif dan tanpa tasybih sebagaimana yang dipegang teguh oleh as-Salaf ash-Sholih dan metode inilah yang beliau terapkan di dalam kitabnya al-Ibanah yang ditulis di akhir hayatnya.”

12. Al-‘Allamah Ibnu Farhun al-Maliki (wafat 799H). Ibnu Farhun berkata di dalam kitab beliau ad-Dibaj,

“Abul Hasan al-Asy’ari memiliki karya tulis antara lain:

  1. Kitab al-Lam’ul Kabir,
  2. Kitab al-Lam’ush Shaghir dan
  3. Kitab al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah.”

13. Ibnul Immad (wafat 1089H), beliau berkata dalam Syadzarat adz-Dzahab (2/303),

“Abul Hasan al-Asy’ari berkata dalam kitabnya al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah dan ini adalah kitab terakhir yang beliau tulis.”

Kemudian menyebutkan satu pasal utuh dari al-Ibanah

14. As-Saiyid al-Murtadha az-Zubaidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin bi Syarh Ihya’ Ulumuddin (2/2),

“Setelah kembali (bertaubat) dari Mu’tazilah, Abul Hasan al-Asy’ari menulis al-Mujaz dalam tiga jilid dan kitab sarat faedah dalam membantah golongan Jahmiyah dan Mu’tazilah, juga Maqalat al-Islamiyin dan kitab al-Ibanah.”

Melihat ini tentu saja akan sangat menyedihkan bila masih ada orang yang mengingkari kitab al-Ibanah sebagai karya Imam al-Asy’ari. Kenyataan naif ini bisa dimaklumi, karena kitab ini membongkar semua kebobrokan tersembunyi di balik klaim mereka sebagai pengikut beliau.

 

Keempat: Perbedaan yang Sangat Jelas antara Metode Ilmiah Tahap Kedua dan Tahap Ketiga Perkembangan I’tiqod Imam al-Asy’ari.

Pada tahap kedua Imam al-Asy’ari sangat terpengaruh dengan metode Ibnu Kullab sebagaimana yang telah disinggung, yang menetapkan sifat-sifat “al-ilmu”, sifat “al-qudrah”, sifat “as-sama” dan seterusnya, dan itu sesuai dengan metode ulama Salaf, akan tetapi mengingkari sifat-sifat Alloh lainnya yang dipegang teguh oleh ulama Salaf seperti sifat bersemayamnya Alloh di atas Arsy (al-Istiwa’). Dan sangat disesalkan metode pada tahap kedua inilah yang dianut sebagian masyarakat Indonesia yang mengklaim diri mereka mengikuti Imam al-Asy’ari dan menobatkan beliau sebagai pendiri Ahlus Sunnah, sehingga apabila kita bertanya, “Di Mana Alloh?” Mereka akan menjawab, “Alloh ada dimana-mana.” Padahal ini bertentangan dengan aqidah as-Salaf ash-Sholih umumnya dan bertentangan dengan aqidah Imam al-Asy’ari khususnya sebagaimana telah beliau tuangkan dalam tiga karya tulis beliau yang telah disinggung sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa beliau melewati tiga tahap dalam perkembangan i’tiqad beliau, dan bukan dua tahap sebagaimana yang diyakini sebagian orang.

Hal lain yang memperkuat point keempat ini adalah kenyataan bahwa doktrin “Alloh dimana-mana” adalah doktrin Mu’tazilah dan ayat-ayat Al-Qur’an tentang bersemayam (al-Istiwa’) mereka takwilkan dengan Istila’ (menguasai), persis dengan metode al-Kullabiyah. Yang sangat tak bisa dimengerti adalah sikap orang-orang Mu’tazilah yang men-dha’if-kan hadits Mu’awiyah bin Hakam as-Suhaimi yang dengan jelas sejelas matahari menerangkan bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta’ala bersemayam di atas Arsy, padahal hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan sanad yang tak diragukan lagi keshahihannya.

Di antara lafazh yang terdapat dalam hadits tersebut adalah (Dari sahabat Mu’awiyah bin Hakam as-Suhaimi rodhiyallohu ‘anhu),

“Kata Mu’awiyah, ‘Aku mempunyai seorang budak perempuan yang menggembalakan kambing milikku di pinggiran gunung Uhud dan sekitarnya. Suatu hari aku mengawasinya dan aku dapatkan seekor serigala telah memangsa seekor kambing milikku, dan aku adalah seorang manusia keturunan Adam (biasa) yang marah sebagaimana orang lain marah dan aku menamparnya dengan keras, kemudian aku datang kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dan Beliau menyatakan sebagai kesalahan berat bagiku. Aku bertanya kepada beliau, ‘Wahai Rosululloh, apakah tidak seharusnya dia kumerdekakan?’ Beliau menjawab, ‘Bawalah dia kepadaku.’ Dan akupun membawanya kepada Beliau, maka Beliau bersabda kepadanya, ‘Di manakah Alloh?’ Budak itu menjawab, ‘Di langit’.’ Beliau bersabda lagi, ‘Siapakah aku?’ Budak itu menjawab, ‘Engkau adalah Rosul Alloh.’ (Mendengar itu) beliau bersabda, ‘Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang Mukminah.’”

(HR. Muslim dalam Shahih Muslim, kitab al-Masajid, bab Tahrim al-Kalam fi ash-sholah…" (I/239-240) no. 537). 

Asy Syaikh al-Allamah Muhammad Nashirudin Al Albani rohimahullohu berkata,

“Semua ulama dari disiplin ilmu sepakat bahwa hadits ini adalah hadits shahih kecuali Mu’tazilah, mereka mengatakan hadits ini adalah dha’if karena tidak bisa diterima oleh akal mereka.”

(Kaset “Tanya Jawab Syaikh Al Albani dengan murid-murid beliau”).

 

Kelima: Pernyataan Imam al-Asy’ari sendiri bahwa beliau mengikuti manhaj Imam Ahmad bin Hanbal.

Pernyataan beliau ini beliau tulis dengan sangat jelas dalam kitab beliau al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah dan manhaj Imam Ahmad bin Hanbal adalah manhaj as-Salaf ash-Sholih, dan tidak seperti metode al-Kullabiyah.

 

Wafatnya Imam al-Asy’ari.

Beliau wafat pada tahun 324H. Semoga Alloh melimpahkan rahmat dan ampunan kepada Imam al-Asy’ari.

 

(Diambil dari buku “Pokok-Pokok Aqidah Salaf Yang Diikrarkan Imam al-Asy’ari” Penerbit: Pustaka Darul Haq – Jakarta. Disusun oleh penerjemah kitab: Al Ustadz Abdurrahman Nuryaman hafizahullohu dengan beberapa edit dari redaksi).


2 Responses to “Biografi Imam al-Asy’ari (4): Di Akhir Hayat Beliau Kembali Sepenuhnya Kepada Manhaj Salafus Sholih”


  1. 1 AHMAD
    August 11, 2009 at 6:20 pm

    assalamu’alaikum
    mau bertanya….
    tulisan anda di atas sumbernya dari buku karangan syapa? atau dari mana?

    Silakan antum baca buku “Pokok-Pokok Aqidah Salaf Yang Diikrarkan Imam al-Asy’ari” terbitan Pustaka Darul Haq. Biografi Imam Asy’ari ada di situ

  2. 2 centrifugal
    November 5, 2009 at 2:07 am

    assalamu;alaikum ustadz,
    ane pernah punya postingan tentang asy’ariyah
    http://centrifugalturbine.blogspot.com/2009/08/busyra-berita-gembira-untuk-ahlussunnah.html


Leave a Reply




Kalender

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Arsip

Categories

Blog Stats

  • 13,055 hits

Pengunjung dari Berbagai Wilayah