Al Ustadz Abu Ahmad Ali hafizahullohu
Jihad adalah amalan yang mulia di dalam Islam, yang dengan itu seseorang akan mendapatkan derajat yang tinggi dan kemuliaan sebagai syuhada bila terbunuh di medan jihad. Sehingga berlomba-lomba kaum muslimin, baik pada zaman Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam masih hidup ataukah sepeninggal beliau sholallohu ‘alaihi wasallam didalam mengorbankan harta dan jiwanya demi tersebarnya Agama ALLOH dan meninggikan kalimat-Nya di muka bumi. ALLOH Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “wahai orang-orang yang beriman, maukah aku tunjukkan kepada kalian atas suatu perdagangan yang bisa menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih, yaitu kalian beriman kepada ALLOH dan Rosul-Nya dan dan kalian berjihad di jalan ALLOH dengan harta-harta kalian dan jiwa-jiwa kalian, yang demikian lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui, niscaya ALLOH ampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam Al Jannah yang mengalir dari bawahnya sungai-sungai dan tempat tinggal yang baik di Al Jannah ‘And. Itu adalah keberuntungan yang besar, dan (kenikmatan) lainnya yang kalian sukai adalah pertolongan dari ALLOH dan kemenangan yang dekat dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman”. (Ash Shoff : 10 – 13).
Akan tetapi, bersamaan dengan begitu banyaknya keutamaan-keutamaan yang diperoleh oleh para mujahidin, baik yang disebutkan dalam Al Qur’an dan As sunnah. ALLOH Subhanahu wa Ta’ala memberi peringatan kepada kaum muslimin dalam firman-Nya : “Tidak sepatutnya bagi orang- orang mu’min untuk perginya semuanya (ke Medan Perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya meeka itu dapat menjaga dirinya”. (At Taubah : 122).
Berkata Asy Syaikh ‘Abdurrahman bin nashir As-sa’di dalam tafsirnya “ maksudnya adalah untuk mempelajari ilmu Syar’i dan mengetahui arti- artinya dan memahami kandungan-kandungannya dan untuk mengajari yang lainnya dan memberi peringatan kepada kaum mereka apabila telah kembali kepadanya. Maka di dalam bab ini, mengandung keutamaan ilmu dan terkhusus memperdalam pengetahuan dalam agama. Dan sesungguhnya itu adalah perkara yang paling penting, dan bahwasanya seseorang yang telah mempelajari ilmu, hendaklah ia sebarkan dan da’wahkan kepada manusia, dan menasehati mereka dengannya, karena sesungguhnya penyebaran ilmu dari seorang yang ‘alim memiliki barokah dan pahala yang terus berkembang untuknya”. (Lihat Taisir Al Kalimir Rohman hal : 355).
Sehingga, secara kesimpulan tidak ada suatu perkara yang bias memalingkan seseorang dari berjihad, melainkan perkara itu pun juga memiliki kemuliaan dan keutamaan serta pahala yang tinggi disisi ALLOH Subhanahu wa Ta’ala. Berkata Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : “maka ilmu adalah seutama-utamanya amalan sholih, dan ia adalah seafdhol-afdhol dan semulia-mulia ibadah-yaitu ibadah tathowwu’ (sunnah), karena ia adalah termasuk dari jenis berjihad di jalan ALLOH Subhanahu wa Ta’ala.
Sesungguhnya agama ALLOH itu bisa tegak dengan dua perkara, pertama : dengan ilmu dan hujjah, kedua : dengan berperang dan ucapan. Maka harus ada padanya dua perkara ini dan tidak mungkin agama ALLOH akan tegak dan nampak kecuali dengan keduanya semuanya, dan yang pertama lebih didahulukan dari yang kedua. Maka lantaran ini Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam tidaklah menyerang suatu kaum sampai (terlebih dahulu) menyampaikan kepada mereka ajakan ke jalan ALLOH Subhanahu wa Ta’ala, maka ilmu itu lebih mendahului dari berperang”. (kitabul Ilmi hal. 13).
Pada perkataan beliau rahimahullah kita bisa mengambil kesimpulan bahwa seseorang mempelajari ilmu agamanya secara tidak langsung dirinya dikatakan pula sedang berjihad, yang semakna dengan ini adalah apa yang disebutkan oleh Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab tersebut beliau sebutkan keutamaan-keutamaan ilmu dari beberapa sisi, dan pada sisi yang ke-103, beliau menyebutkan: Ilmu adalah jihad, kemudian membawakan perkataan dari Abu Addardaa’ rodhiallohu ‘anhu : “Barangsiapa yang berpandangan bahwa bepergian untuk mencari ilmu bukan termasuk jihad, maka sungguh telah kurang akal sehat dan pikirannya”. Demikian pula perkataan Mu’adz bin Jabal rodhiallohu ‘anhu : “Pelajarilah oleh kalian ilmu, maka sesungguhnya mempelajarinya karena ALLOH adalah Khosyyah (rasa takut kepada-Nya) dan mencarinya adalah ibadah dan mempelajarinya adalah tasbih dan membahasnya adalah jihad dan mengajarkannya kepada orang yang tidak bisa adalah sodakoh dan memberikan kepada orang yang berhak adalah ketaatan”. (Al ‘Ilmu hal : 139).
Demikian pula atsar dari Ibnu ‘Abbas rodhiallohu ‘anhu, ketika adaseseorang yang datang menemuinya dan menyatakan kepadanya bahwa dia berkeinginan untuk pergi jihad, maka Ibnu Abbas rodhiallohu ‘anhu rodhiallohu ‘anhuma menyatakan : “bangunlah olehmu sebuah masjid dan engkau belajar di dalamnya dan mengajarkan kepada manusia ilmu dan kewajiban-kewajiban mereka itu lebih utama”. Sehingga, para ulama sepakat, bahwa mempelajari ilmu itu lebih afdhol dan mulia dibandingkan seluruh amalan-amalan ibadah yang sunnah sampai pada permasalahan jihad yang hukumnya Fardhu Kifayyah, berkata Al Khothib Al Baghdadi- rohimahulloh : “mencari hadist pada zaman ini lebih utama dibandingkan seluruh macam ibadah-ibadah sunnah, lantaran hilangnya sunnah-sunnah dan sirnanya, dan nampaknya bid’ah-bid’ah (perkara-perkara yang tidak diajarkan Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam) serta semakin meningginya orang-orang yang melakukannya”. Ini beliau katakana pada zamannya, terlebih lagi pada zaman kita yang kerusakannya jauh lebih parah serta kejahilan merajalela, yang demikian adalah lantaran sebab di tinggalkannya ilmu dan mulai sirnanya semangat kaum muslimin di dalam mengkaji lebih lanjut urusan agama mereka. Berkata Sufyan bin ‘Uyainnah rohimahulloh : “Taukah kalian apa permisalan ilmu ? permisalan seperti Negeri Kafir dan Negeri Islam, maka apabila kaum muslimin meninggalkan jihad akan datanglah orang-orang kafir dan mengambil (agama mereka) Islam. Dan, apabila manusia meninggalkan ilmu maka mereka pun menjadi orang-orang bodoh”. (Hilayatul Auliya 7/281).
Sehingga, islam adalah agama yang memberantas kejahilan dan menghasung seseorang untuk mau menuntut ilmu dan memberikan pahala dan keutamaan yang besar akan hal itu. Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “barangsiapa menempuh suatu jalan yang dia inginkan adalah mencari ilmu, maka Allah mudahkan jalan untuknya menuju Al Jannah (baca : Syurga)”. Hadist riwayat Muslim dari Abu Hurairah rodhiallohu ‘anhu.
Ilmu itu adalah cahaya yang akan membimbing manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju ke cahaya Ilahi dan dengan ilmu pula, ALLOH Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat derajat pemiliknya di dunia dan akhirat. ALLOH Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “ALLOH Subhanahu wa Ta’ala akan angkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”. (Al Mujadilah : 11).
Begitu juga firman-Nya : “kita akan angkat derajat-derajat orang yang kita kehendaki”. (Yusuf : 76).
Karena inilah, kita dapati bahwa orang yang berilmu adalah orang-orang yang dipuji, setiap diri mereka disebut maka manusia memuji mereka, dan ini adalah pengangkatan derajat untuk mereka di dunia. Adapun di akhirat, maka mereka akan diangkat derajat-derajatnya seukuran dengan apa yang mereka jalankan berupa berda’wah ke jalan ALLOH dan mengamalkan apa yang mereka ketahui.
Adapun orang-orang selain mereka, walaupun demikian banyak harta kekayaan yang mereka miliki, kita dapati nama-nama mereka hilang, penyebutan mereka juga hilang seiring dengan hilangnya tubuh mereka dipermukaan bumi (kematian). ALLOH Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Apakah sama antara orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu? ”. (Az Zumar : 9).
“Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu itu benar seperti orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”. (Ar Ro’d : 19).
Maka dari itu, hendaklah kita sing-singkan lengan kita dan tinggikan semangat kita untuk mempelajari perkara-perkara agama kita terlebih lagi kewajiban-kewajiban yang telah ALLOH wajibkan atas setiap individu untuk mengamalkannya yang seseorang tidak diperbolehkan untuk tidak mengetahuinya. Berkata Al Imam Ahmad bin Hambal rodhiallohu ‘anhu : “diwajibkan bagi seseorang untuk mencari ilmu dari apa yang dirinya bisa menjalankan agamanya. Dikatakan kepada beliau : seperti apa? Beliau berkata: yaitu yang kebodohan tidak meluas pada dirinya untuk mengetahui sholatnya dan puasanya dan semisal itu. Kita melihat, sebab terbesar kemerosotan akhlak dan menyebarnya kemaksiatan di tengah-tengah kaum muslimin adalah lantaran hilangnya semangat mereka untuk mencari ilmu. Yang dengar sebab itu mereka terjatuh ke dalam lembah kebodohan, sehingga menyebabkan Iblis dan bala tentaranya dengan leluasa mengatur mereka serta menjatuhkan mereka ke dalam perbuatan-perbuatan dosa”.
Berkata Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah rohimahulloh : “ketahuilah bahwa pintu terbesar yang Iblis bisa masuk kepada manusia adalah kejahilan, maka dia akan bias masuk kepada orang yang jahil dengan aman. Dan adapun orang yang berilmu maka dia tidak akan masuk atasnya kecuali dengan mencuri-curi. Dan sungguh Iblis telah berhasil membikin tipu daya atas kebanyakan dari kalangan Ahli Ibadah lantaran sedikitnya ilmu mereka, karena kebanyakan diantara mereka menyibukan diri dengan beribadah dalam keadaan belum berilmu”. (Talbis Iblis hal : 149).
Dari pendalilan dan penjelasan yang kita uraikan di atas, kita rasa sudah cukup untuk bisa menggerakkan hati-hati kita untuk mau mendulang ilmu, walaupun masih begitu banyak dalil-dalil lainnya yang tidak kalah pentingnya di dalam menyebutkan dan menghasung seseorang untuk berilmu. Janganlah rasa malu kita, lantaran faktor ketuaan atau yang lainnya menyebabkan kita berpaling dari menuntut ilmu. Lihatlah Nabi Musa ‘Alaihissalam, seorang rosul Bani Isroil. Beliau memiliki kedudukan yang tinggi disisi ALLOH Subhanahu wa Ta’ala, sehingga sekian banyak ayat-ayat dalam Al Qur’an menyebutkan kisah-kisahnya. Akan tetapi dengan martabat kedudukan yang tinggi tersebut tidak menghalangi beliau untuk menimba ilmu kepada seorang Nabi biasa yang bernama Khidlir ‘alaihissalam. ALLOH Subhanahu wa Ta’ala sebutkan perkataan Nabi Musa ‘alaihissalam : “Musa berkata kepada khidir : Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajariku dari ilmu-ilmu yang diajarkan (ALLOH) kepadamu?”. (Al Kahfi : 66).
Demikian pula kitabnya Al Imam Ahmad bin Hambal rohimahulloh, imamnya kaum muslimin, disebutkan oleh Muhammad bin Isma’il Ash Shoigh ketika menceritakan perjalanannya ke Kota Baghdad, kemudian melihat Ahmad bin Hambal berlari-lari kecil sambil memegang kedua sandalnya. Maka ada yang berkata: wahai Abu Abdillah (kunnyah beliau), tidaklah engkau merasa malu ? Sampai kapan engkau berlarian bersama anak-anak itu ? Beliau berkata : “sampai mati”. Demikian pula perkataan beliau rahimahullah yang masyhur : “bersama tinta menuju ke kuburan”. Kita melihat semangat dan kesungguhan yang sangat luar biasa di dalam menimba ilmu. Dan masih banyak lagi kisah-kisah orang-orang sebelum kita, yang dengan sebab kesungguhan mereka dan semangat yang membaja pada diri-diri mereka demi mendapatkan pahala kemuliaan yang besar pada hari kiamat, ALLOH Subhanahu wa Ta’ala berikan barokah-Nya kepada mereka dan apa yang mereka miliki dari ilmu-ilmu yang bermanfaat, sehingga tidak ada seorangpun dari umat ini melainkan butuh terhadap peninggalan-peninggalan mereka, berupa karya-karya tulis yang sampai sekarang tak henti-hentinya di cetak dan disebar luaskan ditengah-tengah kaum muslimin. Walhamdulillahi Robbil ‘aalamin
Disarikan dari Buletin Jum’at Audiosalaf (I/1429H) dengan sedikit edit dan perubahan dari redaksi








