ALLOH Azza Wa Jalla berfirman:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain ALLOH, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al Maaidah: 3)
Hikmah di balik larangan ALLOH memang agung. Hanya sedikit yang kita ketahui. Yang terpenting bagi kita adalah mentaatiNya dan tidak boleh sekali-kali melanggar laranganNya. Salah satunya adalah larangan ALLOH untuk memakan (mengkonsumsi) babi. Kisah berikut, semoga menambah kepatuhan kita kepada ALLOH Azza Wa Jalla. Para dokter Amerika berhasil mengeluarkan cacing yang berkembang di otak seorang perempuan. Kenapa bisa sampai ke otak? Beberapa waktu sebelumnya perempuan tersebut mengalami gangguan kesehatan karena mengkonsumsi hamburger dari daging babi. Hamburger merupakan makanan khas Meksiko yang terkenal (ham=babi, sebab aslinya hamburger dibuat dari daging babi, di negara Muslim diganti dengan daging sapi).
Sang perempuan menegaskan bahwa dirinya merasa capek-capek (letih) selama tiga pekan setelah makan daging babi. Dan para dokter di rumah sakit “May Clinics” di negara bagian Arizona telah melakukan pembedahan terhadapnya setelah berhasil mendeteksi “biang rasa sakit” di bagian otak. Ternyata akibat adanya cacing yang hidup di dalamnya. Para dokter menegaskan bahwa daging babi yang dikonsumsi tersebut mengandung cacing pita yang dikenal dengan nama Taenia solium. Josef Seirphin, salah seorang dokter perempuan di rumah sakit tersebut menjelaskan bahwa telur cacing menempel pada dinding usus perempuan tersebut, kemudian bergerak bersama darah sampai ke otak. Ketika sampai di otak, maka cacing menyebabkan sakit yang ringan pada awalnya. Kemudian cacing itu mati dan tidak bisa keluar darinya. Hal ini menyebabkan disfungsi yang sangat berat pada susunan organ di daerah sekeliling cacing itu berada.
Akhirnya, sang perempuan rela untuk dioperasi dalam waktu enam jam penuh untuk mengeluarkan cacing yang mendekam di dalam otaknya. Para dokter melakukan pembiusan lokal, dimana sang perempuan harus dalam keadaan sadar dan bisa berfikir ketika dioperasi, sebab operasi dilakukan di organ yang sangat vital, yaitu otak. Ia harus diajak bicara selama operasi sehingga tidak membawa efek samping sedikit pun terhadap otak perempuan itu. Pada akhirnya, para dokter menemukan dan berhasil mengeluarkan satu ekor cacing yang sudah rusak.
Joseph Seirphin, dokter perempuan yang mengetuai pengobatannya, mengatakan, “Ini keberuntungan, sebab kami tidak menemukan di otaknya kecuali satu ekor cacing saja. ” Bagaimana jadinya kalau yang masuk ke otak tak hanya satu? Tentu akan lebih susah lagi. Dokter juga menegaskan bahwa mereka butuh waktu untuk memonitor kesehatannya selama enam bulan agar bisa memulihkan kesehatannya. Namun demikian sampai kini sang perempuan masih mengalami gejala aneh dan beberapa gangguan kesehatan lain.
Disarikan dari Majalah El Fata edisi 04, vol.5/2005 dengan sedikit edit








