Hari itu, 24 Agustus 79M, Penduduk kota Pompeii beraktivitas seperti biasa. Perdagangan di pasar berjalan biasa. Begitu pula aktivitas pemerintahan dan pendidikan. Kota di wilayah Campania, dekat teluk Napoli, Kerajaan Romawi ini tidak mengetahui akan ada peristiwa besar yang mengubah hidup mereka hari itu. Menjelang tengah hari, hanya beberapa mil di sebelah utara kota, aktivitas gunung berapi Vesuvius tampak meningkat. Gumpalan awan panas nampak naik dan semakin menyembur-nyembur. Beberapa saat kemudian , material vulkanik pun terlempar ke angkasa dan mulai berjatuhan. Itulah hari terakhir kota Pompeii. Bongkahan batu dari ledakan Vesuvius menimpa rumah-rumah dan gedung-gedung. Bangunan yang masih belum terenovasi dengan benar setelah gempa tektonik 7 tahun sebelumnya luluh lantak. Sekitar 20.000 penduduk Pompeii panik. Mayoritas tak bisa menyelamatkan diri dari tertimbun reruntuhan rumah dan bangunan. Yang berada di luar bangunan pun tak selamat terkena bongkahan batu api dari amukan ledakan Vesuvius.
Dari Misenium, di teluk Napoli, 35 km dari Vesuvius, seorang saksi mata, Pliny Muda menyaksikan hebatnya letusan Vesuvius. Ia melukiskan awan panas yang begitu padat dan naik begitu cepat tersebut dalam suratnya kepada sejarawan Tacitus, “Aku tak bisa memberikan deskripsi yang lebih jelas tentang ini, kecuali letusan itu mirip pohon pinus. Letusan itu naik ke atas sangat tinggi membentuk tiang yang tinggi, kemudian menyebar pada bagian atasnya seakan cabang pohon…Kadang-kadang berwarna cerah, kadang gelap dan berbecak menumpahkan isi perut bumi dan bunga api.”
Cendawan awan panas itu naik setinggi 32 kilometer dari permukaan bumi. Dan Vesuvius memuntahkannya selama 19 jam pada hari itu. Total isi perut bumi yang dilontarkan Vesuvius mencapai 4 km kubik. Penduduk yang tak tertimpa material gunung atau reruntuhan bangunan mati menghirup gas beracun dan tersiram abu panas bersuhu 400 derajat Celcius. Selama hampir 24 jam langit di wilayah itu tertutupi abu vulkanik. Pompeii musnah terkubur abu setinggi 15 meter. Begitu juga dua kota di dekatnya, Herculaneum, kota peristirahatan, dan Stabiae. Diduga 2000 jiwa mati dalam peristiwa hebat ini.
Siksa yang tiba-tiba
Sampai 1700 tahun berikutnya, Pompeii dan kedua kota lainnya tersebut terkubur tak tersentuh. Mereka yang selamat dari peristiwa ini tak pernah kembali ke kota naas tersebut. Lama-kelamaan, nama-nama kota itu pun terlupakan. Akhirnya, pada 1748, Pompeii ditemukan kembali. Ekskavasi pun dilakukan. Penggalian tersebut menemukan berbagai hal yang menakjubkan. Kota Pompeii yang terkubur abu terawetkan hampir sempurna. Aspek penting penemuan Pompeii adalah derajat kelestarian yang luar biasa dari kota tersebut. Siraman abu vulkanik basah dan bara api membentuk lapisan pelindung di atas kota tersebut, melestarikan bangunan-bangunan seperti kuil, gedung pertunjukkan, tempat mandi umum, pasar, dan rumah-rumah. Hebatnya lagi, sebagian tubuh-tubuh korban juga terawetkan. Abu vulkanik bercampur dengan hujan menyiram korban dan mencetak tubuh korban letusan tepat saat kematian mereka.
Menyembah berhala
Ada apa dengan Pompeii dan sekitarnya sehingga musnah sedemikian hebat? Orang yang beriman pasti tak mencerna kejadian seperti itu hanya sebagai fenomena alam belaka. Setiap kejadian tentu mempunyai suatu arti. Bencana Vesuvius yang menimpa Pompeii, Herculaneum, dan Stabiae pasti mempunyai sebab. Melihat berabad-abad ke belakang sebelum Pompeii, kota-kota yang dibinasakan adalah karena penduduknya begitu durhaka.
Letusan hebat Pompeii terjadi pada 79M, belum seabad sejak diutusnya Nabi Isa ‘alaihis salam. Karena di antara Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alahi Wa Sallam dan Nabi Isa ‘alaihis salam tidak terdapat seorang nabi pun, bencana Vesuvius tidak terkait dengan cerita seorang nabi pun. Walaupun demikian, latar belakang keagamaan penduduk Pompeii dan Herculaneum menyisakan dugaan bahwa letusan Vesuvius memang merupakan azab dari ALLOH Azza Wa Jalla.
Penduduk Vesuvius kebanyakan memuja Isis, dewi dari kebudayaan Mesir, dan Dionysos, dewa anggur dan kesuburan dari kebudayaan Yunani. Sisanya memuja Apollo, Jupiterm dab beberapa dewa-dewi lainnya. Isis merupakan berhala yang disembah kebanyakan penduduk Pompeii. Menurut kepercayaan mereka, Isis telah mampu membangkitkan suaminya, Osiris, dari kematian. Berdasar ini, penyembah Isis mempunyai harapan Isis akan membangkitkan mereka dari kematian dan memberi mereka hidup abadi. Pemujaan terhadap Isis banyak dilakukan oleh para budak dan pekerja kasar, namun terkenal juga di kalangan bangsawan pada abad pertama masehi.
Dionysos adalah berhala nomor dua yang terkenal di Pompeii. Dionysos atau Bacchus dalam mitologi Roma adalah dewa yang kerap kali dihubungkan dengan mabuk-mabukan, pesta, dan seks. Tiga abad sebelum masehi, kuil Dionysos dibangun di sisi luar Pompeii. Setelah gempa tujuh tahun sebelumnya, kuil Bacchus ini pun cepat terenovasi. Dekorasi dengan elemen Dionysos atau Bacchus banyak ditemukan di dinding-dinding bangunan kota Pompeii. Selain dua berhala di atas, masih terdapat kuil-kuil untuk pemujaan dewa Apollo, Jupiter, dan Demeter.
Jelas, penduduk Pompeii kebanyakan adalah Kafir Musyrik. Ironisnya sehari sebelum terjadi ledakan Vesuvius, 23 Agustus adalah hari festival Vulcanalia, dewa api Romawi.
Adakah Dakwah?
Bagaimana dengan agama Islam (Tauhid) yang dibawa Nabi Isa ‘alaihis salam? Sudah sampaikah risalah tauhid ke sana? Para sejarawan masih berdebat tentang hal ini. Pada tahun-tahun terjadinya letusan Vesuvius, agama yang dibawa Nabi Isa ‘alaihis salam masih merupakan agama yang terlarang. Pemeluk agama Islam ini banyak diburu, ditangkapi, dan disiksa oleh pembesar-pembesar kerajaan Romawi. Jika ada penduduk yang beragama Islam di Pompeii, pastilah ia harus mempraktikan agamanya secara diam-diam. Juga tidak ada kepastian, apakah agama yang sampai di Pompeii itu -jika memang ada dakwah yang sampai ke sana- benar-benar ajaran Islam sebagaimana yang dibawa oleh Nabi Isa ‘alaihis salam ataukah agama Kristen yang merupakan gubahan Paulus dan orang-orang semisalnya.
Satu hal yang perlu dicatat lagi adalah kehidupan di Pompeii. Kota ini bukanlah kota biasa. Kota ini lebih banyak disebut kota peristirahatan atau pelesir. Dibandingkan dengan kota-kota kerajaan Romawi lainnya pada masa itu. Keadaan yang sama juga terdapat di Herculaneum. Bahkan di kota ini terdapat juga tempat perjudian.
Pelajaran penting yang dapat kita ambil dari peristiwa hebat hampir 2000 tahun lalu ini adalah manusia tak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan ALLOH. Juga, kaum-kaum yang tertimpa musibah adalah kaum yang tak beriman kepada ALLOH lagi bermaksiat. Sungguh telah banyak contoh dari umat terdahulu. Akankah kita biarkan tradisi kesyirikan di sekitar kita, sedangkan kita hidup tenteram penuh berkah?
Disarikan dari Majalah El Fata edisi 8 volume 07/2007








