Bingkisan Untuk Umat Islam dan Kaum Muslimin-Berlindung dari Syubhat Barack Obama (1): Mengungkap Jati Diri Barack Obama
(Bagian 1 dari 3 Tulisan)
Akhir-akhir ini tengah marak pemberitaan di media massa soal kampanye Pemilihan Presiden di Negara Amerika Serikat. Sorotan tajam mengarah pada dua kandidat dari Partai Demokrat, yakni Hillary Clinton dan Barack Obama. Dari dua kandidat ini yang mungkin -ALLOHU a’lam- menyita perhatian khususnya umat Islam dan Kaum Muslimin adalah Barack Obama yang tak lain memiliki nama tengah yang berbau ‘Arab dan Islam’ yakni ‘Hussein’ sehingga kita semua tahu bahwa sosok ini memiliki nama lengkap Barack Hussein Obama. Satu hal yang bikin kaum Muslimin khususnya Muslim Indonesia tercengang adalah, sosok ini pernah tinggal dan bersekolah di Indonesia sewaktu kecil. Namun dibalik itu semua, ada sesuatu yang tersembunyi yakni seperti apakah sebenarnya sikap tokoh ini khususnya terhadap umat Islam dan kaum Muslimin?Bagaimana pula hubungannya dengan Islam karena banyak beredar kabar bahwa ia memiliki garis keturunan Islam dan pernah menjadi seorang Muslim? Insya ALLOH tulisan ini akan terlebih dulu mengupas tentang Jati Diri kandidat Presiden Amerika Serikat ini.
Siapakah Barack Obama?[1]
Barack Hussein Obama, Jr, lahir 4 Agustus 1961, adalah seorang Senator dari Illinois. Ia menjadi perhatian dunia karena pidato utamanya pada Konvensi Nasional Partai Demokrat 2004, ketika ia masih menjadi Senator Negara Bagian Illinois. Tahun itu juga, ia menjadi orang keturunan Afrika pertama yang memenangkan pemilihan ke Senat AS sebagai seorang Demokrat. Obama dilahirkan di Queen’s Medical Center di Honolulu, Hawaii dari ayah ekonom lulusan Harvard, Barack Hussein Obama, Sr., dari Kenya (Ada sumber yang menyebutkan bahwa ia adalah seorang Muslim Kenya), dan ibu Ann Dunham, dari Wichita, Kansas. Waktu Obama dilahirkan, kedua orangtuanya adalah mahasiswa di East-West Center di Universitas Hawaii di Manoa.
Ketika berusia dua tahun, orangtuanya bercerai. Ayahnya kembali ke Kenya, dan ia hanya bertemu dengan anaknya sekali lagi sebelum meninggal pada 1982. Ann Dunham kemudian menikah dengan Lolo Soetoro, juga seorang mahasiswa East-West Center (MA Geografi 1962) dari Indonesia. Pada masa kecilnya Barack menggunakan nama ‘Barry’. Keluarga ini kemudian pindah ke Jakarta, di mana adik tiri Obama, Maya Soetoro-Ng, dilahirkan (Obama juga memiliki saudara-saudara tiri dari ayahnya yang menikah lagi). Ketika Obama berusia 10 tahun ia kembali ke Hawaii dan diasuh kakek-neneknya, Madelyn Dunham.
Masa Kecil di SDN Menteng 01[2]
Barack Obama, orang kulit hitam pertama yang kini dijagokan jadi calon presiden Amerika Serikat pada Pemilu 2008, dikenang oleh guru dan teman-temannya di SD Menteng, Jakarta, sebagai murid bertangan kidal yang cerdas. Sosok kepemimpinan Barry memang sudah terlihat sejak bergabung dengan Pramuka sekolah. Pertama datang ke SDN 1 Menteng, Barry tidak bisa bahasa Indonesia. “Dia diantar ibunya, orang bule,” kenang Bandung Winardiyanto, kakak kelas Obama.
Karena teman-teman satu kelas tidak ada yang bisa bahasa Inggris, Barry pun kesulitan berkomunikasi. Layaknya siswa baru yang “antik”, pria kelahiran 4 Agustus 1961 itu kerap jadi bulan-bulanan teman sekolah.
“Dia (Barry) dijulukin Si Lentik Barry karena bulu matanya lentik sekali, rambutnya keriting khas orang Afrika,” ceritanya. Selain itu, Si Lentik pun dijuluki Si Hitam karena kulitnya berwarna gelap. “Tapi dia sih cuek aja dibilang gitu,” kata Bandung tertawa. Meski tak bisa bahasa Indonesia lancar, Barry mudah bergaul dengan teman-teman seangkatan bahkan seniornya. Kenangan terindah bersama Barry ketika camping di sekolah.
“Kami senior dan junior menjabat sebagai Pramuka penggalang,” ungkapnya. Kegemaran Barry main tali-temali dan lomba lari. Pokoknya anaknya tak bisa diam, hiperaktif dan sering bertanya,” terang Bandung. Barry juga sering didaulat menjadi pemimpin regu.
“Dia tak pernah memilih-milih teman sampai suka jajan di kios Kamid,” ceritanya. Kios Kamid berdiri sejak tahun 60-an menjual permen, ciki-cikian (sejenis makanan ringan), dan cokelat. Kami sering jajan bareng,” katanya.
Karir Politik, Harapan & Perubahan[3]
Karir politik Obama bermula dari konvensi nasional Partai Demokrat pada 2004. Saat itu orang langsung membandingkan dia dengan tokoh-tokoh semacam Martin Luther King Jr, dan ikon Demokrat, John dan Robert Kennedy. Sejak itulah ia mengembangkan mantra `harapan dan perubahan`. Ia juga menggambarkan pesaingnya, Hillary Clinton, sebagai simbol sistem politik yang rusak dan harus diperbarui segera.
“Ini saat kita akhirnya mengalahkan politik yang menakut-takuti, meragukan dan sinis. Politik ini malah memecah, bukan membangun negara ini,” kata Obama kepada pendukungnya.
“Sejak saat ini, anda akan melihat ke belakang dan mengatakan, inilah waktu dan tempat Amerika mengingat apa artinya harapan,” lanjutnya.
Karena dua tahun di Kongres dan satu periode sebagai legislator lokal, banyak orang menganggap kampanye Obama sekarang prematur. Dalam bukunya The Audacity of Hope, Obama menjelaskan mengapa ia tidak menunggu giliran untuk bertarung masuk Gedung Putih.
Ia mengaku sangat termotivasi dengan ucapan Martin Luther King Jr tentang `kepentingan yang sangat mendesak` bagi sebuah gerakan akar rumput untuk mendesakkan perubahan.
Ia bahkan sering merenungkan harga yang harus dia bayar untuk menyukseskan kampanyenya, yaitu kehilangan waktu untuk sang istri Michelle dan dua anak perempuannya Malia dan Sasha. Sebagai kaum kulit berwarna, ia kerap menyebut diri sebagai juru bicara generasi mendatang. Secara implisit berupaya memisahkan diri pejuang kulit hitam pendahulunya seperti Jesse Jackson dan Al Sharpton yang saat ikut pemilu presiden kurang mendapat perhatian dari kaum kulit putih. Dalam sebuah wawancara dengan AFP, Obama mengaku bahwa hidup di Indonesia telah membuka matanya. Ia melihat kesenjangan lebar antara kaum miskin dan kaya di seluruh dunia, serta dampak pergolakan politik pada rakyat jelata. “Itu menyadarkan saya tentang jurang lebar di seluruh negara di dunia ini. Ini juga membuat saya sangat memahami betapa orang bisa sedemikian miskin, bagaimana isu-isu korupsi bisa menghilangkan peluang orang,” imbuhnya.
Setelah tamat sekolah menengah, Obama kuliah di Universitas Columbia, lalu masuk ke Harvard Law School. Di situlah ia menjadi mahasiswa kulit hitam pertama yang menjabat presiden Harvard Law Review, sebuah lembaga yang sangat berpengaruh. Semasa kuliah ia sempat bekerja sebagai pengelola komunitas di Harlem New York dan South Side Chicago, dua wilayah paling keras di AS. Saat itu ia membentuk sebuah keluarga. Ia pun terjun ke politik di Illinois sebagai pengacara yang membela hak publik. Ia pun berhasil tiga periode menjadi senator negara bagian, sebelum berhasil menjadi senator AS pada 2004. Pidatonya saat itu membuat dunia melihat lahirnya seorang bintang baru politik AS.
“Tidak ada kulit hitam Amerika, kulit putih Amerika, Latino atau Asia Amerika, kita satu bangsa. Kita semua berjanji setia pada bendera Amerika, kita semua mempertahankan Amerika Serikat,” serunya yang mengundang tepuk tangan membahana.
Siapakah dia sebenarnya?
Di balik ketenaran sosok Barack Obama saat ini, ada sisi lain yang kita tidak ketahui, yakni siapakah dia sebenarnya? Bagaimana sikapnya terhadap Umat Islam dan Kaum Muslimin khususnya menyangkut kaum Muslimin di Palestina dalam upayanya melepaskan diri dari cengkeraman penjajah Yahudi yang menamakan diri mereka dengan ‘Israel’? . Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwasannya ia memiliki ayah yang berasal dari Kenya dan Beragama Islam bernama, Barack Hussein Obama Sr. yang kemudian bercerai dengan istrinya (juga ibu dari Barack jr). Namun sayangnya sumber yang menyebutkan itu adalah sebuah buku terbitan Mizan Group yang notabene adalah Penerbit buku Syi’ah[4] sehingga kita sedikit meragukan akan kebenaran berita tersebut sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut terutama tentang sumbar asli (Daftar Pustaka) yang digunakan dalam buku ini[5]. ALLOH Azza Wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6)
Dalam ayat yang lain, ALLOH Azza Wa Jalla berfirman:
“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rosul ALLOH”. Dan ALLOH mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rosul-Nya; dan ALLOH mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan ALLOH. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Munaafiqun: 1-2)
Dari sini kita mulai sedikit menyangsikan (Insya ALLOH sampai kita benar-benar menemukan sumber asli/daftar pustaka tersebut), namun yang lebih menegaskan keraguan kita adalah sikap dan pernyataan Barack Obama sendiri bahwa dia sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Islam![6] Bahkan sebaliknya, ia malah mengeluarkan pernyataan yang justru bernada memusuhi Islam. Perhatikan pernyataannya berikut ini:
“Kita tidak bisa bergerak maju sampai ada keyakinan bahwa Palestina mampu menyediakan aparat keamanan yang bisa mencegah serangan-serangan terhadap wilayah Israel.”
Bersamaan dengan pernyataan ini pula ia menegaskan bahwa ‘Israel’ harus tetap menjadi negara Yahudi.
“Saya tidak pernah menganut agama Islam. Saya dibesarkan oleh seorang ibu yang menganut paham sekuler dan saya adalah seorang Kristen yang aktif serta menjadi anggota jama’ah agama Kristen.”
Pernyataan ini juga menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak mempunyai latar belakang seorang Muslim.
Dari dua pernyataan ini maka jelas sudah bahwa dia memang bukan seorang Muslim bahkan tidak punya sama sekali latar belakang sebagai seorang Muslim. Meskipun dikatakan oleh sebuah sumber bahwa ayah kandungnya adalah seorang Muslim Kenya, namun dia sendiri tidak mengakui hal tersebut. Bahkan pernyataan-pernyataannya tersebut malah bersikap memusuhi Islam dan Kaum Muslimin, senada dengan apa yang difirmankan ALLOH Azza Wa Jalla:
Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
“Sesungguhnya petunjuk ALLOH itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka ALLOH tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al Baqarah: 120)
-ALLOHU A’lam-
Insya ALLOH bersambung ke Tulisan 2, “Umat Islam agar Jangan Tertipu Lagi!”
Maraji’:
1. Al Qur’an dan Terjemahan (Hadits web 3.0)
2. http://www.rileks.com/lifestyle/?act=detail&artid=31102006117237
3. http://www.digibookgallery.com/
4. Majalah El Fata edisi 03 volume 08/2008 dalam http://aditya06.wordpress.com . Barack Obama Tak Punya Hubungan dengan Islam.
5. Moh. Dawam Anwar et.al. Mengapa Kita Menolak Syi’ah. Kumpulan Makalah Seminar Nasional Tentang Syi’ah di Aula Masjid Istiqlal Jakarta 21 September 1997. Penerbit: Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI)
[1] http://www.rileks.com/lifestyle/?act=detail&artid=31102006117237
[2] ibid
[3] ibid
[4] Lihat tulisan KH. Thohir Abdullah Al Khaff tentang Penerbit buku Syi’ah. (Mengapa Kita Menolak Syi’ah. Halaman 64-65, penerbit LPPI)
[5] Buku ini berjudul “Barack Hussein Obama Kandidat Presiden Amerika yang punya Muslim Connection”. Insya ALLOH telah banyak beredar di toko-toko buku.
[6] Artikel Berjudul “Barack Obama Tak Punya Hubungan dengan Islam” (Majalah El Fata edisi 03 volume 08/200
yang juga telah dimuat dalam blog ini di Dunia Islam.








