Feeds:
Posts
Comments

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Fatihah: 3).

 

Imam Al Qurthubi rohimahullohu berkata:

“Alloh menyifati diri-Nya dengan ar-Rahmaan dan ar-Rahiim setelah Rabbul ‘aalamin, untuk menyertai anjuran (targhiib) setelah peringatan (tarbiib) sebagaimana Firman-Nya:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الألِيمُ

“Kabarkan kepada hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hijr: 49-50).

Dan juga Firman-Nya:

إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Robb-mu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al An’aam: 165).”

(Tafsir Al Qurthubi, I/139)

Continue Reading »

Dari Huzdaifah bin Al Yaman rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata:

“Orang-orang bertanya kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena takut jangan-jangan menimpaku, Maka aku bertanya, “Ya Rosululloh kami dahulu berada di zaman jahiliyah dan keburukan, lalu Alloh memberikan kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?” Beliau menyawab, “Ya.” Aku bertanya, “Dan apakah sesudah keburukan itu ada kebaikan?” Beliau menjawab, “Ya, dan ada padanya kabut!” Aku bertanya lagi, “Apa kabut itu?” Beliau menjawab, “Satu kaum yang mengikuti teladan selain sunnahku dan mengambil petunjuk selain petunjukku, kamu menganggap baik mereka dan kamu pun mengingkarinya.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan lagi?” Beliau menjawab, “Ya, para da’i yang mengajak ke pintu-pintu neraka (jahannam)! Barangsiapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka menjerumuskan ke dalam neraka.” Aku bertanya lagi, “Ya Rosululloh beritahulah kami sifat-sifat mereka?” Beliau menjawab, “Mereka dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya lagi, “Ya Rosululloh, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya?” Beliau menjawab, “Berpegang teguhlah pada jama’ah kaum Muslimin dan Imamnya.” Aku bertanya lagi, “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imam?” Beliau menjawab, “Hindarilah semua kelompok itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga kematian menjemputmu dalam keadaan seperti itu.”

(HR. Bukhari dalam Fathul Baari (6/615-616) dan Muslim (no. 1847)).

 

Berbicara tentang sosok Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni, seorang penulis kondang yang kini digandrungi oleh sebagian besar kaum Muslimin sepertinya tidak akan lengkap bila kita tidak menguraikan tentang apa saja karya tulis yang telah beliau buat. Memang kita semua mengenal karya tulis beliau yang berjudul “La Tahzan” tapi apakah kita mengenal tulisan-tulisannya yang lain? Aidh Al Qarni memiliki banyak karya tulis dan kaset-kaset ceramah. Namun yang akan kita bahas disini Insya Alloh akan fokus kepada karya tulis yang dibuat olehnya dan bagaimana sikap kita terhadap karya-karyanya, terutama yang sudah banyak beredar di masyarakat dan terlanjur disukai oleh banyak kaum Muslimin.

Continue Reading »

Dari Abu Said Sa’ad ibn Malik ibn Sinan Al Khudri rodhiyallohu ‘anhu, bahwasannya Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Pada umat sebelum kamu ada seorang laki-laki yang membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Kemudian dia bertanya kepada seorang pendeta. Dia mendatanginya dan bertanya, “Sesungguhnya dia telah membunuh sembilan puluh sembilan nyawa, apakah ada taubat untuknya?” Pendeta menjawab, “Tidak.” Maka ia pun membunuhnya, menggenapkan angka seratus dengannya. Kemudian dia bertanya tentang orang yang paling mengerti di muka bumi ini. Maka ia pun ditunjukkan kepada seorang ‘alim. Dia berkata (kepadanya): “Sesungguhnya dia telah membunuh seratus nyawa, apakah ada taubat untuknya?” ‘Alim itu menjawab, “Ya dan memangnya siapa yang menghalangi antara dia dan taubat? Pergilah ke suatu negeri, sesungguhnya di sana terdapat orang-orang yang menyembah Alloh Ta’ala, menyembahlah kepada Alloh bersama mereka. Kamu jangan pulang ke negerimu karena ia adalah negeri yang jelek.” Maka orang tadi berangkat dan tatkala ia sampai pada separuh perjalanan, ia dijemput oleh maut. Maka malaikat rahmat dan malaikat adzab berselisih tentangnya. Malaikat rahmat berkata, “Dia datang dalam keadaan bertaubat, menghadap dengan sepenuh hatinya kepada Alloh Ta’ala.” Sementara malaikat adzab mengungkapkan alasan, “Sesungguhnya dia belum pernah melakukan kebaikan sama sekali.” Maka ada malaikat lain yang mendatangi mereka dalam wujud manusia. Akhirnya mereka menjadikannya sebagai penengah (hakim). Maka dia berkata, “Ukurlah jarak antara dua negeri ini, kemana ia lebih dekat jaraknya maka ia termasuk miliknya.” Mereka pun mengukur, ternyata mereka menemukan bahwa dia lebih dekat dengan kampung yang sedang dituju. Maka malaikat rahmatlah yang menanganinya.”

(Muttafaq ‘Alaihi).

 

Belakangan ini marak pemberitaan bahwa Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni telah ruju kembali kepada kebenaran. Si penulis “La Tahzan” itu disebut telah mengoreksi kesalahan-kesalahannya dan kembali kepada tuntunan Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman as-Salaf ash Sholih. Akan tetapi, kabar ruju’ ini tidak serta-merta membolehkan kita untuk menjadikan orang ini sebagai ulama panutan layaknya para ulama Ahli Ilmu. Asy Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan hafizahullohu menyebutkan bahwa ruju’-nya Aidh Al Qarni memang benar namun ia tidaklah ruju’ secara kaffah (sempurna). Berikut adalah pernyataan beliau tentang kabar ruju’-nya Aidh Al Qarni:

Continue Reading »

Dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Akan datang masa-masa yang menipu dimana para pendusta dibenarkan dan orang-orang yang jujur didustakan. Para pengkhianat diberi amanat dan orang yang amanah dianggap pengkhianat dan berbicara pada masa itu ruwaibidhah.” Lalu ada yang bertanya, “Siapakah Ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab, “Orang bodoh berbicara tentang permasalahan umat.”

(HR. Ibnu Majah (no. 4036), Ahmad (2/291), Al Hakim (4/465, 466 dan 512), Al Khoraaithy (Makaarimul Akhlaaq, hal. 30), Asy Syazriy (Amaali, 2/256 dan 265))

 

latahzan Sebelum sempat pindah ke blogspot, penulis pernah menayangkan artikel tentang Biografi Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni, sang penulis buku best seller “La Tahzan”. Tulisan ini menjadi tulisan paling banyak dibuka dan dibaca, bahkan menjadi salah satu tulisan yang turut mendongkrak kunjungan ke blog ini. Namun dikarenakan keputusan untuk menampilkan artikel tersebut penulis sekaligus blog ini mendapat kritikan tajam dari saudara sesama salafiyin yang menyebutkan bahwa penulis telah terkena pemikiran sururi, yakni suatu pemahaman yang dinisbatkan kepada Muhammad Surur Zainal Abidin yang memiliki pemahaman takfir sebagai salah satu ajaran khawarij sehingga pemikiran sururi itu sebenarnya merupakan bagian dari ajaran khawarij itu sendiri allohu a’lam.

Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni dan buku “La Tahzan” (Jangan Bersedih) menjadi amat populer di masyarakat saat ini. Buku beliau telah banyak dibedah di negeri ini dan paling banyak dicari dan dibeli oleh masyarakat. Tak hanya itu, salah satu penerbit bahkan telah pula menerbitkan buku “La Tahzan for Teens” yang juga ditulis oleh beliau, namun kemasannya untuk remaja. Nama “La Tahzan” pun pernah dijadikan sebagai nama bagi sekolah darurat di Aceh ketika baru-baru saja ditimpa bencana Tsunami. Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni bahkan pernah datang ke negeri ini dalam sebuah event tahunan. 

Dibalik popularitas dan banyaknya masyarakat yang menggandrungi sosok Aidh Al Qarni, ada beberapa catatan dan kesalahan yang tidak diketahui oleh masyarakat bahwa sosok yang digandrungi itu sebenarnya memiliki cacat dan para ulama telah memberikan catatan perihal pemikiran beliau bahkan buku “La Tahzan” yang beliau tulis.

Continue Reading »

Untuk beberapa waktu Imam al-Asy’ari masih mengikuti metode Ibnu Kullab dan terus membantah Mu’tazilah dengan metode al-Kullabiyah tersebut. Akan tetapi Alloh menganugerahinya kebenaran dan menyinari bashirah-nya, serta dengan kembalinya beliau secara total kepada Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, ialah Manhaj Ahlul Hadits.

Tahapan yang ketiga ini sangat penting untuk lebih dicermati karena tahap inilah yang membuktikan lurusnya aqidah beliau, sehingga sama dengan akidah yang dipegang teguh oleh para ulama madzhab yang empat, Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Asy-Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal, juga Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dan Muhammad bin Abdul Wahab.

Sebagian orang mengingkari tahapan ketiga ini, dan dalam pandangan mereka ini hanya rekayasa untuk mengklaim Imam al-Asy’ari. Untuk mereka, perhatikan lima sisi kenyataan ilmiah berikut ini:

Continue Reading »

‘Ubadah bin Ash Shamit rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمداً عبده ورسوله وأن عيسى عبد الله ورسوله وكلمته ألقاها إلي مريم وروح منه والجنة حق والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل

“Barangsiapa bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Alloh saja, tiada sekuru bagi-Nya, dan Muhammad adalah Hamba dan Rosul-Nya, dan (bersaksi) bahwa ‘Isa adalah hamba Alloh, Rosul-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh daripadaNya, dan (bersaksi pula bahwa) Surga adalah benar adanya dan Neraka pun benar adanya, maka Alloh pasti memasukkannya ke dalam Surga betapapun amal yang telah diperbuatnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim).

 

Dua Kalimat Syahadat “ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ ” memegang peranan penting dalam ajaran Islam. Ia adalah pokok dalam ajaran Islam yang bisa kita buktikan dari Rukun Islam dimana Dua Kalimat Syahadat disebutkan paling pertama, sebelum perintah untuk sholat. Jika pada pembahasan terdahulu kita memfokuskan pada kalimat syahadat “ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ” (Tiada Sesembahan yang hak kecuali Alloh) dengan syarat, rukun dan konsekuensinya, maka pembahasan kali ini adalah syahadat “ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ ” (Muhammad adalah utusan Alloh).

Continue Reading »

Jagalah Lisanmu!

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS. Al Mu’minuun: 1-3).

 

Seringkali kita tak menyadari pembicaraan yang kita lakukan sendiri. Berapa banyak pembicaraan kita yang memiliki nilai manfaat dan berapa banyak pula yang sama sekali tidak bermanfaat. Namun, kita justru memiliki kecenderungan untuk membicarakan sesuatu hal yang sama sekali tidak bermanfaat, bahkan tak jarang pembicaraan kita malah terbawa pada gossip dan memfitnah orang lain. Sebagaimana ayat di atas, di antara ciri-ciri seorang mukmin adalah menjaga lisannya dari perkataan-perkataan yang tidak berguna. Tapi seringkali kita malah terjerumus atau menjerumuskan diri kedalamnya.

Continue Reading »

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

هَا أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الأنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Alloh mengetahui segala isi hati”"

(QS. Ali ‘Imran: 119).

 

Sudah sering kita mendengar penderitaan Yahudi pada masa Perang Dunia II. Mereka ditindas, disiksa, dibantai, dan dipaksa keluar dari Eropa oleh Nazi Jerman. Itu yang sering terdengar. Namun, sebenarnya, mereka malah tertolong dengan ulah Nazi Jerman. Tujuan mereka tercapai karena aksi kejam Nazi Jerman. Koq bisa?

Awal: Konspirasi Menguasai Dunia

Awal dari semua kembali ke tahun 1773 Di Jaudenstaat, Frankfurt, Bavaria, di kediaman Sir Mayer Amschell Rotchschild bertemulah 13 keluarga Yahudi berbengaruh. Saat itu Rotschild melontarkan dua rencananya. Pertama, menyusun 25 program penguasaan dunia yang kemudian kita kenal sekarang sebagai Protokolat Zionis. Yang kedua, Rotschild menyebut nama Adam Weishaupt untuk mendirikan dan memimpin organisasi konspiratif modern bernama illuminati. Pertemuan Frankfurt ini menyepakati, mereka harus menemukan kembali harta karun King Solomon yang mereka yakini terbenam dalam reruntuhan Haikal Sulaiman yang ada di bawah Masjid Al Aqsha di Jerusalem.

Caranya adalah dengan merebut Jerusalem dari tangan bangsa Palestina yang sudah ribuan tahun mendiaminya. Masalahnya, bagaimana cara merebut Jerusalem dari bangsa Arab?

Theodore Herzl menjawab dengan mendirikan gerakan zionis. Kongres Zionis pertama di Basel pada 1897 menelurkan tujuan gerakan Zionisme: membentuk Negara Yahudi di Palestina yang terlindungi secara hukum.

Continue Reading »

Sejarah Zionisme

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الأرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْ قَلِبُوا خَاسِرِينَ قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّى يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ قَالَ رَجُلانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَا هُنَا قَاعِدُونَ قَالَ رَبِّ إِنِّي لا أَمْلِكُ إِلا نَفْسِي وَأَخِي فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي الأرْضِ فَلا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Alloh bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata: "Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya." Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Alloh) yang Alloh telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Alloh hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Robb-mu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." Berkata Musa: "Ya Robbi, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu". Alloh berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu."” (QS. Al Maa’idah: 21-26)

 

Mendengar penderitaan rakyat Palestina, kita akan mendengar pula kata Zionis. Yahudi dan Zionis memang merupakan dua hal yang tak bisa terpisahkan. Dari Zionismelah sebuah negara yang dinamakan “Israel” terbentuk. Bagaimana sejarah awal Zionisme ini?

Zionisme[1] didefinisikan sebagai gerakan pernyataan umat Yahudi yang tersebar di seluruh dunia dan menempatkan mereka di Palestina. Nama gerakan ini diambil dari Zion, nama bukit dimana orang Yahudi mempercayai bahwa di atas bukit itu dulu pernah berdiri kuil Yerusalem. Istilah Zionisme pertama kali dipakai dalam gerakan ini pada 1890 oleh Nathan Birnbaum, filusuf Yahudi dari Austria.

Continue Reading »

Polemik seputar Ahmadiyah memang tengah bergulir, lebih-lebih sejak dikeluarkannya SKB (Surat Keputusan Bersama) tiga menteri terkait Larangan Ahmadiyah. Aqidah Ahmadiyah meyakini bahwa pemimpin mereka, Mirza Ghulam Ahmad, adalah Nabi sesudah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dan inilah salah satu alasan mengapa Ahmadiyah masuk dalah aliran sesat. Tapi, ada sebagian oknum yang malah membela habis-habisan Ahmadiyah dengan tameng demokrasi, toleransi/kerukunan beragama dan Hak Asasi Manusia (MUI). Sebagian lainnya menyatakan Ahmadiyah adalah ormas Islam yang tak perlu diusik bila ada satu atau dua hal perbedaan. Sebagaimana pembahasan-pembahasan yang lalu, Ahmadiyah jelas menyimpang dari syari’at Islam. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah sejak lama memfatwakan Kesesatan Ahmadiyah (sejak 1980). SKB (Surat Keputusan Bersama) tiga menteri tentang Pembubaran Ahmadiyah sudah dikeluarkan. Komite Fatwa Kerajaan Arab Saudi juga sudah menyatakah bahwa Ahmadiyah itu di luar Islam.

Berikut adalah 2 (dua) buah penegasan bahwa tidak ada lagi Nabi dan Rosul setelah Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam.

Continue Reading »

Older Posts »